Review Buku Emotional Intelligence 2.0 Menjadi Cerdas Emosional | Emotional Intelligence 2.0


Hidup yang sukses bukan berdasarkan dari IQ tapi dari EQ, cara kamu mengontrol diri dan menjalin hubungan dengan orang lain.

Kali ini saya akan membahas buku Emotional Intelligence 2.0 karya Travis Bradberry dan Jean Greaves. Buku ini membahas bagaimana kamu bisa meningkatkan kemampuan kecerdasan emosional.

Jika kamu mau sukses dalam berkarir, bekerja dengan baik saja tidak cukup, kamu perlu memahami cara berkomunikasi dengan orang lain, mungkin dengan rekan kerja, atasan, klien, dan sebagainya.

Apapun pekerjaanmu, baik itu bekerja mandiri atau berkarir di perusahaan, kita pasti tidak bisa lepas dari interaksi dengan orang lain. Bukan hanya itu, untuk mengelola tekanan pekerjaan dan hidup, kamu juga harus bisa menjadi ahli mengontrol emosi, apalagi dalam situasi yang sulit.

Itulah mengapa buku ini menjadi sangat penting, bukan hanya membantu kamu untuk membangun hubungan yang kuat dengan orang lain, tapi juga dengan dirimu sendiri.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini: Pertama, Apa itu kecerdasan emosional? Mungkin kamu sadar, kok di sekelilingmu ada orang yang sepertinya jago dalam membaca situasi dan bahasa tubuh orang lain, mereka juga punya keahlian dalam memberikan respon yang tepat.

Mereka merupakan tipe orang yang mampu menenangkan rekan kerja yang sedang marah, berkomunikasi dengan rekan kerja yang sulit, dan menenangkan rekan kerja yang sedang cemas.

Apa yang membuat orang tersebut begitu ahli? Ternyata, hal ini berakar pada kemampuan kecerdasan emosional mereka. Kecerdasan emosional atau dikenal dengan EQ adalah kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi.

Hal ini juga melibatkan kompetensi sosial, yang berarti memahami emosi orang lain dan keterampilan komunikasi yang baik.

Orang dengan skor EQ tinggi mampu mencegah emosi mereka sendiri mempengaruhi perilaku mereka.

Menariknya, kecerdasan emosional dapat ditingkatkan dengan mengamati orang lain yang memiliki EQ tinggi dan dengan mengembangkan hubungan dengan mereka. EQ pada dasarnya merupakan gabungan dari empat elemen.

READ  The paradox of choice | Barry Schwartz

Pertama, self-awareness. Ini adalah kemampuan untuk memahami perasaan atau prilaku kamu.

Kedua, self-management. Ini adalah kemampuan untuk mengontrol diri sehingga kamu bisa memberikan respon yang sesuai pada kondisi yang berbeda.

Ketiga, social awareness. Tadi kita bahas kalau yang utama adalah bagaimana mengontrol diri sendiri.

Maka, kali ini adalah soal membaca situasi dan kondisi.

Orang yang ahli dalam hal social awareness mampu memahami apa yang membuat orang lain marah, sedih, atau bahagia. Keempat, relationship management. Dengan memahami dirimu sendiri dan orang lain, maka kedua hal ini akan membantu kamu membangun hubungan yang lebih kuat dengan orang yang penting di hidupmu. Contohnya begini, jika kamu tahu kalau rekan kerjamu sulit menerima kritik secara langsung, maka kamu akan mencoba memberikan kritik yang lebih mudah diterima.

Kedua, Mulai dengan dirimu dulu Seberapa baik kamu mengenal dirimu sendiri?

Kamu mungkin tahu apa yang kamu suka dan tidak suka, tapi self-awareness lebih dalam daripada hanya sekedar itu. Ini adalah tentang bagaimana kamu memahami emosi dan perasaan kamu, sehingga kamu tidak dikontrol olehnya. Kamu jadi paham soal apa yang kamu rasakan, termasuk ketika kamu marah atau kesal.

Misalnya begini, suatu hari ternyata dompetmu ketinggalan di rumah saat kamu sudah sampai di kantor, kopi yang kamu buat tumpah, atau rekan kerjamu tidak bekerja sesuai deadline. Jika dalam sehari kamu mengalami hal yang buruk, mungkin kamu menjadi sangat kesal dan ingin menumpahkan semuanya.

Namun, dalam kondisi ini, kamu harus mencoba untuk latihan self-awareness. Sadarilah ketika kamu sedang bad mood, perasaan itu pasti akan pergi juga. Apapun yang membuat kamu bad mood, tentu saja bukan seperti hari kiamat kan, jadi kenapa kamu harus menanggapinya dengan berlebihan? Itu tadi adalah contoh latihan self-awareness ketika muncul perasaan negatif.

READ  Ciri-ciri Keuangan Perusahaan yang Sehat

Bagaimana bila sebaliknya?

Ketika kita mendapatkan kabar yang menyenangkan? Bayangkan, toko favoritmu sedang menggelar diskon besar-besaran, kamu pun langsung buru-buru pergi dan belanja sebanyak-banyaknya. Pada kondisi tersebut, diri kamu ibaratnya dikontrol oleh emosi kamu sendiri.

Ketika dalam kondisi ini, coba berhenti sejenak dan tanya ke dirimu, apakah kamu benar-benar memerlukan barang tersebut? Latihan self-awareness ini akan berusaha untuk membuat kamu sadar tentang apa yang kamu rasakan.

Selain self-awareness, selanjutnya latihan yang bisa kamu lakukan adalah self-management. Ini memang bukan hal mudah. Setelah memahami apa yang sedang kita rasakan, ini adalah latihan untuk menyeimbangkan antara logika dan perasaan. Kamu juga bisa menimbang mana yang lebih penting dan memprioritaskan untuk tujuan jangka panjang.

Misalnya, kamu mau menurunkan berat badan, namun kemudian diajak makan all you can eat.

Bagaimana? Pilihan mana yang kamu ambil? Tentu saja setiap pilihan ada konsekuensinya dan apakah pilihan kamu mendekatkan pada tujuan kamu atau tidak?

Ada dua latihan yang bisa kamu lakukan untuk melatih self-management. Pertama, Emotion vs Logic List.

Jadi, ketika misalnya kamu dihadapkan pada dua pilihan, apalagi pilihan yang sulit. Maka, kamu bisa berlatih dengan membuat daftar antara perasaan dan logika.

Tuliskan argumen secara logika dan perasaan di dua baris yang berbeda, sehingga ini bisa membantu kamu melihat segala sesuatu dengan lebih jelas.

Kedua, gunakan self-talk. Rata-rata manusia memiliki 50.

000 pemikiran setiap hari dan pemikiran ini akan mempengaruhi perasaan dan sikapmu. Jadi, ketika kamu sudah sadar apa yang sedang kamu rasakan, usahakan untuk berlatih mengganti pikiran negatif menjadi pikiran yang lebih positif.

Ketiga, Belajar memahami orang lain Sebelumnya kita sudah bahas, kalau semuanya harus dimulai dari diri sendiri dulu, barulah kemudian kita bisa melatih kemampuan kita untuk memahami orang lain. Latihan ini merupakan observasi atas perilaku, ekspresi, bahasa tubuh, dan nada suara orang lain untuk mengetahui kapan lelucon itu pantas dilontarkan atau kapan lebih baik memberikan seseorang kesempatan untuk melampiaskan rasa frustrasinya.

READ  best mutual fund 2019

Untuk langkah awal, kamu bisa memulainya dengan memanggil seseorang dengan namanya, jadi bukan hanya dengan sebutan, bapak, ibu, mas, atau mba.

Tapi kamu sebut namanya, Bapak Ali, Ibu Maria, dan sebagainya.

Dengan mengingat dan menyebut namanya, ini adalah langkah awal untuk menarik perhatian lawan bicara kamu. Selanjutnya, kamu harus hadir sepenuhnya, mendengarkan, dan mengamati. Ini berarti kita harus memberikan perhatian penuh kepada orang lain dan bersedia mempertimbangkan sudut pandang mereka.

Ini membutuhkan kemauan dan kemampuan untuk memahami perspektif orang lain meskipun mereka berbeda dari perspektif kamu.

Salah satu tujuan utama dari kecerdasan emosional adalah mampu membangun hubungan yang baik dengan orang lain.

Untuk meningkatkannya, kamu bisa belajar dengan meminta feedback orang di sekitarmu. Apa yang mereka rasakan saat berinteraksi denganmu. Semua orang memang pada dasarnya sulit menerima feedback dari orang lain.

Namun, kritik yang membangun mampu meningkatkan dirimu sebagai pribadi dan juga pada akhirnya meningkatkan hubungan kamu dengan orang lain.

Orang dengan kecerdasan emosional yang baik mampu mengontrol dirinya sendiri, tahu kapan harus bicara, dan kapan harus diam.

Mereka juga mampu membaca situasi dan kondisi saat berhubungan dengan orang lain.

Read More: LIMITASI BANDWIDTH PALING MUDAH – SIMPLE QUEUE – QOS [ENG SUB]

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *